Ajari Aku Sholat

Zahra seorang penerjemah bertemu dengan Marc orang Prancis yang menyewa jasanya untuk menemani perjalanan bisnis saat di Indonesia. Lelaki itu jatuh cinta pada janda beranak satu itu karena kesantunannya. Diam-diam lelaki bermata almond itu tertarik dengan salat yang selama ini dilakukan Azahra saat bersama. Hingga lelaki itu ingin diajari salat. Kelucuan-kelucuan apa yang terjadi saat Marc belajar salat? Saksikan hanya di Ajari Aku Salat.

  • Bab 1. Prahara Rumah Tangga

Siang itu sangat terik. Azahra menyibak kerudungnya karena sangat kegerahan. Dia sudah sampai di rumah. Rumah sederhana yang dihuni oleh ibu dan putri kecilnya yang sangat istimewa. Azahra adalah seorang singgle parent dengan satu anak. Suaminya meninggalkannya tiga tahun lalu. Wanita dua puluh sembilan tahun itu harus menerima kenyataan ditinggalkan sang suami ketika putrinya Jelita menderita kelainan. Usia Jelita pada waktu itu masih tiga tahun. Kini gadis istimewanya Azahra sudah berusia enam tahun.

Azahra bukan wanita biasa. Dia lulusan luar negeri dengan gelar istimewa. Ijazahnya diraih juga dengan perjuangan dan beasiswa. Namun semua itu tidak berarti ketika menikah dengan Reihan. Lelaki tinggi tegap dengan kulit sawo matang khas keturunan Jawa itu tidak memperkenankan Azahra untuk bekerja. Alasannya sungguh klasik. Wanita it sudah kodratnya dapur, sumur dan kasur. Sebagai istri yang luar biasa, Azahra mengubur dalam-dalam seluruh cita-citanya tersebut. Dia memilih mengabdikan diri untuk sang suami.

Awalnya, kelahiran Jelita disambut suka cita. Meriah dan bertabur hadiah. Segala macam upacara adat digelar untuk keselamatan sang buah hati. Tiap sesi diadakan upacara adat. Hingga malapetaka itu terjadi. Pada suatu malam, diadakan sebuah pesta di rumah mewah itu. Gadis berusia tiga tahun itu merajuk meminta sesuatu dan tidak ada yang tahu yang diinginkannya. Memang, hanya Azahra saja yang mengetahui cara komunikasi Jelita. Namun, saat itu Azahra sedang melayani beberapa tamu.

Baca Juga  Trik Dapat Penghasilan dari Menulis

Gadis berusia tiga tahun itu menangis dan mengamuk karena keinginannya tidak dituruti. “Nyonya Zahra, Jelita mengamuk!” Seorang pelayan berpakaian hitam putih memberi tahu Zahra. Maka Zahra segera berlari menuju tempat Jelita mengamuk.

“Sayang, Jelita. Ini Bunda, Nak. Ada yang Zahra inginkan?” Anak itu memeluk bundanya dengan sangat erat. Ternyata ada yang menjahili Jelita sehingga anak malang itu histeris. 

“Kamu yakin, Jer? Tapi dari keluarga kami tidak ada yang menderita kebisuan.” Jeri mengangguk-anggukkan kepala. Akhirnya pesta selesai. Dengan muka masam Reihan masuk kamar. Namun tidak ada istrinya di sana. Reihan tahu di mana harus mencari Zahra. Dia melangkah menuju kamar putrinya yang ada di sebelah.

“Tinggalkan dia! Bukannya sudah tidur?” Zahra dengan hati-hati meninggalkan tubuh mungil yang sudah terlelap itu.

Zahra masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, maka wanita itu mendekati suaminya. Namun berbeda, suaminya sedikit dingin padanya.

“Ada apa, Ayah?” tanya Zahra.

“Kita periksakan Jelita. Sepertinya ada kelainan.” Zahra setuju dengan ide itu. Namun tetap saja malam ini Zahra merasakan hal yang aneh dengan suaminya itu. Wanita bibir tipis itu tidak mengerti alasannya. Suaminya tersebut berbaring dan membelakangi. Ingin rasanya Zahra menanyakan alasannya. Tapi keberanian terkungkung dalam tenggorokan. Nyatanya, dia tidak sanggup untuk melafalkan semua yang ada di kepala.

Zahra memilih untuk mengikuti jejak suaminya menatap dinding. Dia juga membelakangi suaminya. Ini adalah awal bencana itu. Hingga tiba prahara demi prahara tidak berujung.

Seorang gadis menarik gaunnya, membuat lamunan Zahra terhenyak dan dia menoleh ke arah sang penarik itu.